by

Gubernur Ini Masuk Daftar Orang Miskin

Gubernur Ini Masuk Daftar Orang Miskin – Menjadi pemimpin dalam sebuah wilayah pemerintahan tentu menjadi salah satu hal yang sangat membanggakan. Bahkan banyak di antara mereka yang rela melaksanakan apa saja demi mendapatkan dingklik di pemerintahan.

Pada kala kini, jabatan tinggi menjadi salah satu modal untuk memperbaiki perekonomian keluarga. Karena tidak bisa dipungkiri kalau menduduki sebuah jabatan, niscaya akan mendapatkan honor yang sebanding dengan apa yang menjadi tanggungjawabnya.

Namun tidak demikian dengan gubernur yang satu ini. Ia justru masuk dalam formasi masyarakat miskin yang harus menerima bantuan. Hidupnya susah bahkan tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Siapakah dia? Berikut ulasannya.

Ternyata gubernur tersebut tidak hidup di zaman kini. Dia hidup pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Nama gubernur yang ternyata terdaftar ke dalam warga miskin itu yaitu Said bin Amir al-Jumhi. Kisah ini bermula ketika khalifah Umar bin Khattab berniat untuk menggantikan gubernur Syam yang usang yaitu Muawiyah dengan Said.

Berkatalah Umar kepada Said, “”Aku ingin memberimu amanah menjadi gubernur”. Akan tetapi pada awalnya Said menolak tawaran tersebut dengan alasan takut terjerumus ke dalam sebuah fitnah.

Said berkata, “Jangan kau jerumuskan saya ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin. Kalian mengalungkan amanah ini di leherku kemudian kalian tinggal aku.”

Pada ketika itu Umar menerka bahwa Said menginginkan gaji, akan tetapi hal tersebut dibantah oleh Said. Umar tetap bersikeras untuk mengakibatkan Said sebagai gubernur, maka untuk memperlihatkan ketaatannya terhadap khalifah maka dirinya mendapatkan seruan tersebut dan diangkatnya ia menjadi gubernur.

Hingga pada karenanya berangkatlah said beserta keluarganya ke Syam untuk menjalankan amanah barunya. Pada suatu masa, Said terlilit sebuah kebutuhan yang memerlukan uang. Akan tetapi, di dalam rumahnya tidak ada uang pribadi yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sementara itu di kota Madinah, Umar mendapatkan utusan yang berasal dari Syam. Mereka tiba dengan tujuan untuk melaporkan beberapa kebutuhan dan urusan mereka sebagai rakyat yang dipimpin oleh khalifah Umar bin Khattab.

Setelah mendapatkan tamu tersebut, Umar berkata kepada mereka “Tuliskan nama-nama orang miskin di daerah kalian.”

Mereka pun menuliskan nama-nama orang miskin yang ada di kota Syam. Betapa terkejutnya Umar sesudah mendapatkan goresan pena tersebut, lantaran menemukan nama Said yang menjadi salah satu orang miskin di kota itu.

“Apakah ini Said gubernur kalian?”

“Ya, itu Said gubernur kami.”

“Dia termasuk daftar orang-orang miskin?” tanya Umar lagi mempertegas.

“Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api (tidak memasak).”

Mengetahui kenyataan tersebut menciptakan Umar menangis sampai janggutnya berair dengan air mata. Setelah itu, dirinya mengambi 1.000 dinar dan menaruhnya ke dalam kantong kecil seraya berkata, “Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya, Amirul Mukminin memberi anda harta ini, supaya anda sanggup menutup kebutuhan anda!”

Lalu, pulanglah utusan tersebut ke Syam dan mereka mendatangi Said dengan membawa kantong tersebut. Betapa terkejutnya Said ketika mengetahui bahwa kantong yang diterimanya berisi uang dinar. Kemudian ia meletakkan uang tersebut dan menjauh sambil berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” seakan-akan ia tertimpa tragedi alam dari langit atau ada suatu ancaman di hadapannya.

Hal ini menciptakan sang istri keluar dengan wajah kebingungan sambil berkata “Ada apa, wahai Sa’id? Apakah Amirul Mukminin meninggal dunia?”

“Bahkan lebih besar dari itu,” timpal Sa’id.

“Apakah orang-orang Muslim dalam bahaya?”

“Bahkan lebih besar dari itu.”

“Apa yang lebih besar dari itu?”

“Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah tiba ke rumahku.”

Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu darinya.” Saat itu istrinya tidak mengetahui ihwal uang-uang dinar itu sama sekali.

“Apakah kau mau membantu saya untuk itu?” tanya Sa’id.

“Ya,” kata sang istri. Setelah mendapatkan tanggapan dari sang istri, Said kemudian mengambil uang dinar tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong, kemudian menyuruh sang istri untuk membagikannya kepada penduduk yang fakir.

Tidak usang berselang, datanglah Umar ke negeri Syam tersebut untuk melihat keadaan. Ketika singgah di daerah kiprah Said, betapa terkejutnya Umar mengetahui banyaknya keluhan dari rakyat mengenai kinerja dari gubernur mereka tersebut.

Setelah mendengar aduan dari rakyat, maka Umar pribadi mengambil langkah cepat untuk menuntaskan duduk masalah tersebut biar tidak berlangsung lama. Maka diadakanlah pertemuan akbar antara Said sebagai gubernur dengan rakyatnya yang merasa kecewa.

“Ya Allah, jangan Engkau kecewakan prasangka baikku selama ini kepadanya (kepada Said),” kata Umar mengawali.

Umar kemudian bertanya di hadapan penduduk.

“Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Ia tidak keluar kepada kami kecuali kalau hari telah siang.”

“Apa jawabmu ihwal hal itu, wahai Sa’id?” kata Umar.

Sa’id melamun sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah, bekerjsama saya tidak ingin menjawab hal itu. Namun, kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak memiliki pembantu. Maka setiap pagi saya menciptakan gabungan roti, kemudian menunggu sebentar sehingga gabungan itu mengembang. Kemudian saya buat gabungan itu menjadi roti untuk keluargaku, selesai itu saya berwudhu dan gres keluar rumah menemui penduduk.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya, ia tidak mendapatkan tamu pada malam hari.”

“Apa jawabmu ihwal hal itu, wahai Sa’id?”

“Sesungguhnya, Demi Allah, saya tidak suka untuk mengumumkan ini juga. Aku telah mengakibatkan waktu siang hari untuk rakyat dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla,” jawab Sa’id.

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar lagi.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya ia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

Sa’id menjawab, “Aku tidak memiliki pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan saya tidak memiliki baju kecuali yang saya pakai ini, dan saya mencucinya sekali dalam sebulan. Dan saya menunggunya sampai baju itu kering, kemudian saya keluar menemui mereka pada sore hari.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Ia sering pingsan, sampai ia tidak tahu orang-orang yang duduk di majelisnya.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

Sa’id menjawab, “Aku menyaksikan meninggalnya sohabat Khubaib bin Adi Al-Anshari di Mekah. Kematiannya sangat tragis di tangan orang-orang kafir Quraisy. Mereka menyayat-nyayat dagingnya kemudian menyalibnya di pohon kurma. Orang Quraisy itu meledek, “Khubaib, apakah kau rela kalau Muhammad kini yang menggantikanmu untuk disiksa?” Khubaib menjawab, “Demi Allah, kalau saya berada hening dengan keluarga dan anakku, kemudian Muhammad tertusuk duri sungguh saya tidak rela.” Ketika itu saya masih dalam keadaan kafir dan menyaksikan Khubaib disiksa sedemikian rupa. Dan saya tidak bisa menolongnya. Setiap ingat itu, saya sangat khawatir bahwa Allah tidak mengampuniku untuk selamanya. Jika ingat itu, saya pingsan.”

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang lumayan prasangka baikku kepadanya.”

Setelah mendengar tanggapan tersebut, Umar kemudian memperlihatkan uang sebanyak 1.000 dinar kepada Said. Ketika melihat uang tersebut, istrinya berkata kepada Said, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu. Belilah materi masakan dan sewalah seorang pembantu.”

Akan tetapi, bukannya mengikuti tawaran dari istrinya, Said justru menyuruh istrinya untuk membagikan uang tersebut kepada orang yang lebih membutuhkan. Seperti kepada janda, anak yatim, orang-orang miskin dan fakir.

Demikianlah isu mengenai nama gubernur yang termasuk dalam daftar orang miskin pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Meskipun Said menjabat sebagai gubernur, akan tetapi ia lebih menentukan membiarkan dirinya hidup dalam kemiskinan daripada harus memakan uang rakyatnya. Tidak hanya itu, ia juga sosok yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri.

News Feed