ACEH TIMUR | Banjir dengan ketinggian yang nyaris menenggelamkan atap rumah kembali melanda wilayah timur Aceh. Kawasan Blang Seunong, Kecamatan Pante Beudari, Kabupaten Aceh Timur hingga ke Buket Linteung, Aceh Utara, dilaporkan terendam banjir cokelat pekat, membuat aktivitas warga lumpuh total.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial dan dilansir dari dokumentasi warga, banjir tersebut merendam sebuah rumah dan musala dengan ketinggian air mencapai 2,3 meter. Air meluap dengan cepat hingga menutupi halaman dan masuk ke dalam bangunan. Dalam dokumentasi yang beredar, terlihat bangunan dengan atap merah marun terendam hampir setengah dinding, sementara pepohonan dan vegetasi di sekitarnya hanya menyisakan pucuk yang terlihat di atas permukaan air yang keruh.
Peristiwa itu terjadi pada Senin, 12 Oktober 2026. Titik lokasi banjir tercatat berada di koordinat 4.883209°N, 97.514260°E, yang selama ini memang dikenal sebagai kawasan rawan banjir langganan setiap memasuki musim penghujan. Debit air yang terus meningkat membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga.
Apa yang terjadi di Blang Seunong ini kembali menegaskan bahwa banjir di Aceh Timur bukan lagi bencana musiman yang mengejutkan, melainkan bencana yang dipelihara oleh pembiaran. Setiap tahun wilayah yang sama terendam, dengan ketinggian yang sama, dengan alasan yang sama, namun solusi permanen tak kunjung terlihat. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan sistem peringatan dini seolah hanya menjadi jargon dalam rapat, bukan kerja nyata di lapangan.
Hingga informasi ini dihimpun, belum ada laporan korban jiwa. Namun sejumlah warga dilaporkan telah mengungsi ke dataran yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Mereka kini membutuhkan bantuan mendesak, terutama dari BPBD Aceh Timur dan pemerintah setempat, berupa logistik, perahu karet, dan tempat pengungsian yang layak.
Warga berharap pemerintah tidak hanya hadir saat air sudah surut untuk sekadar mendata kerugian. Kehadiran negara dibutuhkan saat air sedang naik, saat warga membutuhkan evakuasi. Jika kawasan dengan koordinat yang sudah jelas rawan ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, maka warga Blang Seunong dan Buket Linteung akan terus menjadi langganan banjir tahunan yang menguras harta dan mengancam keselamatan. (*)




































