ACEH TENGGARA — Banjir susulan kembali menghantui Desa Kuning I, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Minggu malam (11/10/2026), sekitar pukul 21.30 WIB. Tingginya debit air, kondisi jembatan yang dinilai dangkal, hingga minimnya penerangan jalan di lokasi banjir menjadi persoalan yang memicu keresahan masyarakat.
Luapan air yang mencapai badan Jalan Nasional Kutacane–Medan tidak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna jalan yang melintas pada malam hari. Minimnya penerangan di sekitar lokasi semakin meningkatkan risiko bagi pengendara, terutama ketika badan jalan tertutup atau tergenang air.
Mantan anggota DPRK Aceh Tenggara sekaligus tokoh masyarakat Gayo, Sukri Win Bangsu, angkat bicara menyoroti persoalan banjir yang terus berulang tanpa solusi nyata. Ia menilai penanganan dari pihak terkait, khususnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, perlu segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara konkret.
Menurutnya, tingginya debit air yang diperparah oleh kondisi jembatan yang dinilai kurang memadai dalam mengalirkan air diduga menjadi faktor yang memperburuk luapan banjir ke badan jalan nasional dan kawasan permukiman warga.
Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga keselamatan masyarakat. Ketika banjir terjadi pada malam hari dengan penerangan jalan yang minim, pengendara menghadapi risiko lebih besar karena kondisi genangan dan hambatan di jalan sulit terlihat dengan jelas.
Dampak banjir juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas perdagangan terganggu, pelanggan berkurang, dan kerugian ekonomi terus membayangi masyarakat yang menggantungkan hidup dari usaha sehari-hari.
“Jangan sampai masyarakat kecil terus menjadi korban dari persoalan yang berulang tanpa penyelesaian. Kami berharap BPJN Aceh segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini sebelum kerugian masyarakat semakin besar,” demikian sorotan Sukri.
Selain menyoroti penanganan banjir, Sukri juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap anggota DPRK Aceh Tenggara dari daerah pemilihan (Dapil) II yang menurutnya belum pernah mengunjungi masyarakat Desa Kuning I selama banjir berulang kali terjadi.
“Jangan hanya datang ketika membutuhkan suara kami. Justru saat masyarakat sedang menghadapi kesulitan seperti ini, inilah momen yang tepat bagi wakil rakyat untuk hadir, melihat langsung kondisi warga, dan mendengarkan keluhan masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap wakil rakyat menunjukkan kepedulian nyata dengan turun langsung ke lapangan, mendengarkan keluhan warga, serta mendorong percepatan penanganan banjir yang telah berulang kali merugikan masyarakat.
Sukri mendesak BPJN Aceh dan instansi berwenang segera mengevaluasi kondisi jembatan, kapasitas aliran air, serta kebutuhan penerangan jalan di kawasan rawan banjir Desa Kuning I. Penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, bukan hanya ketika banjir terjadi.
Bagi warga Kuning I, persoalannya kini bukan hanya banjir yang terus berulang, melainkan juga keselamatan pengguna jalan, minimnya penerangan pada malam hari, dan ancaman terhadap mata pencaharian masyarakat kecil. Warga membutuhkan langkah nyata agar Jalan Nasional tidak terus menjadi jalur luapan air tanpa kepastian penyelesaian.
Berita ini diterbitkan sebagai bentuk penyampaian aspirasi masyarakat Desa Kuning I.
membuka ruang tanya jawab, konfirmasi, klarifikasi, serta hak jawab kepada BPJN Aceh dan pihak-pihak terkait guna menghadirkan pemberitaan yang berimbang, akurat, dan terpercaya. (*)




































