Bendera Putih Berkibar di Aceh, Tanda Darurat dan Kepasrahan Warga Hadapi Bencana

DETIK ACEH

- Redaksi

Selasa, 16 Desember 2025 - 02:07 WIB

50403 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh –  Bendera putih berkibar di sejumlah titik di jalan-jalan utama dan pemukiman warga di berbagai wilayah Aceh. Dari Aceh Timur, Langsa, Lhokseumawe, hingga Aceh Tamiang, warna putih mendominasi pemandangan di sepanjang jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan. Di antara lalu lalang kendaraan dan sisa-sisa banjir, bendera-bendera itu tidak melambai sebagai simbol damai atau kemenangan, melainkan tanda masyarakat menyerah di tengah bencana yang belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Sudah tiga pekan lebih sejak banjir besar melanda sebagian besar wilayah pesisir timur dan tengah Provinsi Aceh. Ribuan rumah terendam, akses antarwilayah terputus, dan aliran listrik padam selama berminggu-minggu. Bantuan dari pemerintah pun datang secara terbatas, tak mampu menjangkau seluruh titik terdampak yang sebagian besar terisolasi akibat jalan rusak dan jembatan runtuh. Kondisi tersebut mendorong warga untuk mengibarkan bendera putih sebagai bentuk seruan darurat, permintaan pertolongan, dan ekspresi kepasrahan atas situasi yang mereka hadapi.

Bendera-bendera itu mulai muncul sejak pertengahan Desember, ketika hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari menyebabkan puluhan sungai meluap dan menggenangi ratusan desa. Di Alue Nibong, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, seorang warga bernama Bahtiar menyampaikan bahwa pengibaran bendera putih dilakukan secara spontan oleh masyarakat karena merasa sudah tak sanggup menangani dampak banjir dengan kemampuan sendiri. Ia mengatakan bahwa kebutuhan dasar mulai dari makanan, air bersih, hingga selimut dan obat-obatan sangat kurang. Ia menambahkan, “Masyarakat menyerah dan butuh bantuan. Kami tidak sanggup lagi.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengakuan serupa datang dari warga lainnya, Zamzami, yang menyebut bahwa bendera putih merupakan simbol nyata dari keputusasaan. “Masyarakat di sini sudah tidak sanggup. Bendera putih ini tanda kami menyerah oleh keadaan,” ujar Zamzami. Di sejumlah titik, warga bahkan membangun dapur umum secara swadaya, bergotong royong menyediakan makanan untuk sesama yang kehilangan tempat tinggal. Namun keterbatasan bahan pangan membuat banyak dapur umum itu kini tak lagi beroperasi secara maksimal, sementara rasa lapar terus menghantui para pengungsi.

Seiring makin luasnya pengibaran bendera putih, tekanan terhadap pemerintah pusat untuk bergerak lebih cepat pun terus meningkat. Gerakan Rakyat Aceh Bersatu menyampaikan ultimatum bahwa jika tak ada langkah konkret dari pemerintah pusat, maka rakyat akan melakukan aksi turun ke jalan. Juru bicara gerakan tersebut, Masri, menyampaikan desakan agar Presiden Prabowo Subianto segera menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatera, khususnya Aceh. Menurutnya, tanpa langkah tersebut, masyarakat akan terus dibiarkan bertahan dalam kondisi darurat tanpa kepastian bantuan yang memadai.

Masri menyebut bahwa seluruh gerakan sipil di Aceh, mulai dari Langsa hingga Lhokseumawe, akan bersatu menggalang aksi pada 16 Desember mendatang. Tujuan dari desakan itu adalah agar pemerintah pusat segera mengerahkan bantuan logistik dalam skala besar, termasuk mengaktifkan komponen cadangan nasional seperti militer dan tim penyelamat, serta distribusi dari udara bila akses darat tak memungkinkan. Ia menegaskan bahwa bendera putih bukan semata simbol kepasrahan, tetapi juga seruan agar dunia internasional turut mendengar kondisi darurat yang tengah terjadi.

Di sisi lain, kondisi kelistrikan dan distribusi energi juga memperparah keadaan. Mantan Sekretaris Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias yang kini menjadi Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Ampon Man, menjelaskan bahwa masyarakat hidup dalam ketidakpastian selama berminggu-minggu tanpa listrik maupun akses komunikasi, bahkan di daerah yang semestinya aman seperti Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia menyoroti lambannya pemulihan layanan dasar serta krisis bahan bakar minyak dan elpiji yang berujung pada lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, tidak tampak pengerahan pasukan penyelamat secara besar-besaran seperti saat tsunami tahun 2004, padahal skala bencana kali ini juga kompleks dan meluas. Belum ada pemetaan kerusakan yang menyeluruh untuk digunakan sebagai dasar relokasi dan proses rekonstruksi. Ia juga mengkritik minimnya peran lembaga teknis yang seharusnya bergerak cepat mendukung evakuasi dan pemulihan. Pertamina baru mulai melancarkan distribusi BBM pada hari ke-10 pascabencana, sedangkan PLN merespons masih dengan mekanisme normal, tanpa solusi darurat seperti pengiriman generator ke lokasi terdampak.

Meski demikian, Ampon Man menyampaikan apresiasi terhadap Badan Pangan Nasional dan Bulog yang bergerak cepat menjaga ketersediaan logistik pangan untuk sejumlah posko bencana. Namun, ia menekankan bahwa bantuan pangan saja tidak cukup jika tidak diikuti langkah-langkah sistematis untuk memberikan kepastian pemulihan jangka panjang. Pemerintah seharusnya segera mendata jumlah kerusakan, lahan warga yang terdampak, serta rumah yang hancur. Selain itu, penting bagi pemerintah memberi jaminan pemulihan ekonomi bagi masyarakat kecil yang sangat bergantung pada sektor pertanian, perdagangan mikro, dan pekerjaan informal lainnya yang kini lumpuh total.

Bendera putih yang berkibar di seluruh Aceh menjadi penanda krisis multidimensi. Apa yang disuarakan warga tidak semata-mata soal bantuan logistik, tetapi juga peringatan bahwa ada kegentingan yang tidak ditangani secara serius. Masyarakat hanya meminta satu hal: hadirnya negara dalam bentuk paling nyata di tengah penderitaan mereka. Ketika bendera putih berkibar, bukan semata karena mereka tak punya pilihan, tetapi karena mereka ingin didengar.***

Berita Terkait

SEKDA Aceh Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA
Serikat Pekerja PT Pegadaian Aceh Hadirkan Senyum Bersama Anak Yatim Borong Baju Lebaran
Serikat Pekerja PT Pegadaian Aceh Hadirkan Senyum Bersama Anak Yatim Borong Baju Lebaran Banda Aceh : Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali diwujudkan oleh Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh melalui kegiatan sosial bertajuk “Ramadhan Berbagi Keceriaan” yang dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Suzuya Mall Banda Aceh. Kegiatan ini menghadirkan momen kebahagiaan bagi anak-anak yatim melalui program belanja pakaian Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Sejumlah anak yatim diajak langsung untuk memilih pakaian yang mereka inginkan untuk dikenakan pada hari raya nanti. Suasana haru dan bahagia terlihat jelas ketika anak-anak dengan antusias memilih baju baru yang akan menjadi bagian dari kebahagiaan mereka saat menyambut Idul Fitri. Program sosial ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Serikat Pekerja PT Pegadaian terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitar. Ketua DPC Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh, M. Raul Putra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi merupakan bentuk nyata komitmen organisasi dalam menumbuhkan budaya kepedulian sosial di lingkungan Pegadaian. “Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim agar mereka juga dapat merasakan kegembiraan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri,” ujar Raul. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan Ramadhan Berbagi Keceriaan akan terus menjadi program tahunan Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh, bahkan diharapkan dapat terus berkembang dengan jangkauan yang lebih luas. “Kegiatan berbagi kebahagiaan seperti ini akan terus kita agendakan setiap tahun. Harapan kami, ke depan skalanya bisa semakin besar sehingga semakin banyak anak-anak yatim yang dapat merasakan manfaat dan kebahagiaan dari kegiatan ini,” tambahnya. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari manajemen Pegadaian. Turut hadir dalam acara tersebut Deputy Area Banda Aceh, Sahputra Andriansyah, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif sosial yang dilakukan oleh Serikat Pekerja. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan di lingkungan Pegadaian. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh. Ini merupakan contoh nyata bagaimana Pegadaian tidak hanya berfokus pada pelayanan bisnis, tetapi juga hadir memberikan kontribusi sosial bagi masyarakat,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pihak manajemen akan terus mendukung berbagai kegiatan sosial yang diinisiasi oleh Serikat Pekerja maupun karyawan Pegadaian, karena kegiatan tersebut sejalan dengan semangat perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Kegiatan Ramadhan Berbagi Keceriaan ini juga dihadiri oleh seluruh anggota Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh yang turut terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak yatim selama kegiatan berlangsung. Menariknya, kegiatan sosial ini tidak hanya dilaksanakan di Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari program yang dilakukan secara serentak di tingkat DPD Medan, sehingga semangat berbagi kepada masyarakat dapat dirasakan secara lebih luas di berbagai wilayah. Adapun dana kegiatan berasal dari kas DPP Serikat Pekerja PT Pegadaian serta kontribusi sedekah dari para karyawan dan karyawati PT Pegadaian di wilayah Aceh. Partisipasi para pegawai ini menunjukkan tingginya semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan Pegadaian. Melalui kegiatan tersebut, Pegadaian tidak hanya ingin berbagi secara materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, perhatian, serta semangat kebersamaan bagi anak-anak yatim yang menjadi bagian dari masyarakat. Dengan kegiatan sosial yang terus digelar secara berkelanjutan, Pegadaian berharap dapat semakin memperkuat perannya sebagai institusi yang tidak hanya hadir memberikan layanan keuangan bagi masyarakat, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Semangat berbagi di bulan Ramadhan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.[*]
Instruksi Mualem, Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Tanggap Inflasi di Lima Kabupaten/Kota
Tekankan Pentingnya Kearifan Lokal, Kapolda Perkuat Sinergi Polda Aceh dan KPP Pratama Banda Aceh
Buka Puasa di Rumah Dinas Sekda Aceh Berlangsung Hangat, Gubernur Mualem dan Wakapolda Turut Hadir
Polda Aceh Gelar Pasar Murah Gerakan Pangan Murah Polri Serentak
Wakapolda Aceh Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Seulawah 2026

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 18:05 WIB

Puluhan Siswa MIN 5 Nagan Raya Sambut Luluk Williams Selaku, Ny Principal Director

Jumat, 27 Maret 2026 - 12:05 WIB

Ketua RAPI Nagan Raya Apresiasi Kinerja Polres Nagan Raya Amankan Perayaan Idul Fitri Secara Humanis dan Profesional

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:10 WIB

Sosok Sederhana di Balik Jabatan: Ramadhan, SE Mulai Langkah Baru untuk Simpang Kiri

Senin, 23 Maret 2026 - 17:34 WIB

Apresiasi Kinerja PT Fajar Baizury & Brothers. Ketua DPP Lembaga RKCA Ajak Warga Nagan Raya Dukung Program CSR

Senin, 23 Maret 2026 - 17:03 WIB

Ternak Warga Mati : Bukan Gara Gara Limbah PT Fajar Baizuri. Ini Penjelasan Humas

Minggu, 22 Maret 2026 - 17:06 WIB

“Tak Ada Ampun! Dugaan Pungli JADUP Siperkas Menggila, Warga Kepung Oknum dan Siapkan Bukti Hukum”

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:25 WIB

TRK Bupati Nagan Raya Salurkan Bantuan Sapi/Kerbau dari Presiden RI kepada Warga Terdampak Bencana

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:20 WIB

Kapolres Nagan Raya, AKBP Dr. Benny Bathara, S.I.K., M.I.K, Bagi Takjil Untuk Warga Penguna Jalan

Berita Terbaru

BANDA ACEH

SEKDA Aceh Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA

Rabu, 15 Apr 2026 - 23:22 WIB