Masyarakat Aceh Nilai Negara Abaikan Seruan Damai, Lapor Ada Kekerasan Terhadap Warga

DETIK ACEH

- Redaksi

Kamis, 25 Desember 2025 - 23:15 WIB

50213 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banda Aceh – Suara keresahan muncul dari berbagai wilayah di Aceh. Masyarakat menilai pemerintah pusat dinilai semakin menunjukkan ketidakpekaan terhadap kondisi kemanusiaan yang terjadi di Tanah Rencong. Di tengah krisis ekonomi dan bencana yang memukul warga, berbagai seruan damai yang disampaikan justru dinilai tidak mendapat tanggapan serius dari negara.

Sejumlah warga menyebut pengibaran bendera putih di beberapa daerah bukan aksi politis, melainkan simbol permintaan tolong dan panggilan darurat dari masyarakat. Namun, simbol perdamaian tersebut disebut luput dari perhatian pusat, tanpa ada tanggapan nyata dalam bentuk kebijakan atau bantuan langsung menyentuh masyarakat bawah.

“Ketika rakyat mengibarkan bendera putih, suara kami diabaikan. Tapi ketika kami mulai menunjukkan identitas Aceh lewat simbol, justru kami diperlakukan dengan kekerasan,” ujar seorang warga dari kawasan pantai barat Aceh yang enggan disebutkan namanya, Jumat (25/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekecewaan masyarakat makin memuncak setelah dalam beberapa hari terakhir muncul laporan dugaan tindakan kekerasan terhadap warga sipil saat mereka mengibarkan bendera Bintang Bulan. Simbol tersebut secara historis identik dengan Gerakan Aceh Merdeka, namun dalam konteks terkini banyak digunakan sebagai ekspresi identitas budaya dan seruan moral akan kondisi Aceh hari ini.

Menurut keterangan warga, pengibaran bendera itu dilakukan secara spontan sebagai bentuk ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan, bukan gerakan terorganisir. Namun, dalam beberapa kasus, aksi tersebut justru mendapat respons keras dari aparat. Laporan dari sejumlah titik menyebut ada warga yang dipaksa menurunkan bendera secara kasar, bahkan beberapa mengalami intimidasi saat menyuarakan aspirasi.

“Ini membuat masyarakat takut. Ada kesan suasana damai itu semakin dipersempit,” kata seorang tokoh muda di Lhokseumawe yang juga tak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Respons keras ini memicu kecemasan bahwa pendekatan negara kembali mengarah pada pola represif yang dianggap tidak sejalan dengan semangat perdamaian pasca-MoU Helsinki. Berbagai organisasi sipil dan tokoh masyarakat menyerukan agar pemerintah pusat menghentikan pendekatan kekerasan dan mulai membuka ruang dialog yang terbuka dengan masyarakat Aceh.

Mereka mengecam keras pendekatan yang dinilai hanya memperdalam trauma lama konflik masa silam. “Kami ingin damai, ingin bangkit. Tapi yang kami dapat justru ketakutan,” kata warga lainnya dari kawasan Aceh Timur.

Dalam pernyataan yang beredar di beberapa grup masyarakat sipil, mereka menuntut agar pemerintah pusat segera bertindak untuk mengurangi potensi konflik sosial dengan menghadirkan perlindungan nyata, bukan tekanan tambahan. Mereka juga meminta kejelasan tentang posisi negara atas simbol-simbol lokal yang kini digunakan masyarakat sebagai bagian dari identitas kultural, bukan ancaman terhadap NKRI.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah pusat maupun aparat keamanan terkait laporan aksi kekerasan dan pengabaian terhadap seruan masyarakat Aceh tersebut. Namun, situasi ini menjadi sorotan, terutama karena terjadi menjelang momen reflektif akhir tahun dan peringatan peristiwa tsunami serta awal mula perdamaian pada 2005 lalu.

Warga berharap suara mereka tidak lagi dipinggirkan. Dalam kondisi darurat dan penuh tekanan, mereka meminta negara hadir untuk mendengar, memberikan perlin (*)

Berita Terkait

SEKDA Aceh Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA
Serikat Pekerja PT Pegadaian Aceh Hadirkan Senyum Bersama Anak Yatim Borong Baju Lebaran
Serikat Pekerja PT Pegadaian Aceh Hadirkan Senyum Bersama Anak Yatim Borong Baju Lebaran Banda Aceh : Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali diwujudkan oleh Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh melalui kegiatan sosial bertajuk “Ramadhan Berbagi Keceriaan” yang dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Suzuya Mall Banda Aceh. Kegiatan ini menghadirkan momen kebahagiaan bagi anak-anak yatim melalui program belanja pakaian Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan. Sejumlah anak yatim diajak langsung untuk memilih pakaian yang mereka inginkan untuk dikenakan pada hari raya nanti. Suasana haru dan bahagia terlihat jelas ketika anak-anak dengan antusias memilih baju baru yang akan menjadi bagian dari kebahagiaan mereka saat menyambut Idul Fitri. Program sosial ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Serikat Pekerja PT Pegadaian terhadap masyarakat, khususnya anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitar. Ketua DPC Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh, M. Raul Putra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi merupakan bentuk nyata komitmen organisasi dalam menumbuhkan budaya kepedulian sosial di lingkungan Pegadaian. “Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperkuat nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim agar mereka juga dapat merasakan kegembiraan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri,” ujar Raul. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan Ramadhan Berbagi Keceriaan akan terus menjadi program tahunan Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh, bahkan diharapkan dapat terus berkembang dengan jangkauan yang lebih luas. “Kegiatan berbagi kebahagiaan seperti ini akan terus kita agendakan setiap tahun. Harapan kami, ke depan skalanya bisa semakin besar sehingga semakin banyak anak-anak yatim yang dapat merasakan manfaat dan kebahagiaan dari kegiatan ini,” tambahnya. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari manajemen Pegadaian. Turut hadir dalam acara tersebut Deputy Area Banda Aceh, Sahputra Andriansyah, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif sosial yang dilakukan oleh Serikat Pekerja. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan di lingkungan Pegadaian. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh. Ini merupakan contoh nyata bagaimana Pegadaian tidak hanya berfokus pada pelayanan bisnis, tetapi juga hadir memberikan kontribusi sosial bagi masyarakat,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa pihak manajemen akan terus mendukung berbagai kegiatan sosial yang diinisiasi oleh Serikat Pekerja maupun karyawan Pegadaian, karena kegiatan tersebut sejalan dengan semangat perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Kegiatan Ramadhan Berbagi Keceriaan ini juga dihadiri oleh seluruh anggota Serikat Pekerja PT Pegadaian Area Aceh yang turut terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak yatim selama kegiatan berlangsung. Menariknya, kegiatan sosial ini tidak hanya dilaksanakan di Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari program yang dilakukan secara serentak di tingkat DPD Medan, sehingga semangat berbagi kepada masyarakat dapat dirasakan secara lebih luas di berbagai wilayah. Adapun dana kegiatan berasal dari kas DPP Serikat Pekerja PT Pegadaian serta kontribusi sedekah dari para karyawan dan karyawati PT Pegadaian di wilayah Aceh. Partisipasi para pegawai ini menunjukkan tingginya semangat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan Pegadaian. Melalui kegiatan tersebut, Pegadaian tidak hanya ingin berbagi secara materi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, perhatian, serta semangat kebersamaan bagi anak-anak yatim yang menjadi bagian dari masyarakat. Dengan kegiatan sosial yang terus digelar secara berkelanjutan, Pegadaian berharap dapat semakin memperkuat perannya sebagai institusi yang tidak hanya hadir memberikan layanan keuangan bagi masyarakat, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Semangat berbagi di bulan Ramadhan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.[*]
Instruksi Mualem, Pemerintah Aceh Gelar Operasi Pasar Tanggap Inflasi di Lima Kabupaten/Kota
Tekankan Pentingnya Kearifan Lokal, Kapolda Perkuat Sinergi Polda Aceh dan KPP Pratama Banda Aceh
Buka Puasa di Rumah Dinas Sekda Aceh Berlangsung Hangat, Gubernur Mualem dan Wakapolda Turut Hadir
Polda Aceh Gelar Pasar Murah Gerakan Pangan Murah Polri Serentak
Wakapolda Aceh Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Seulawah 2026

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 18:05 WIB

Puluhan Siswa MIN 5 Nagan Raya Sambut Luluk Williams Selaku, Ny Principal Director

Jumat, 27 Maret 2026 - 12:05 WIB

Ketua RAPI Nagan Raya Apresiasi Kinerja Polres Nagan Raya Amankan Perayaan Idul Fitri Secara Humanis dan Profesional

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:10 WIB

Sosok Sederhana di Balik Jabatan: Ramadhan, SE Mulai Langkah Baru untuk Simpang Kiri

Senin, 23 Maret 2026 - 17:34 WIB

Apresiasi Kinerja PT Fajar Baizury & Brothers. Ketua DPP Lembaga RKCA Ajak Warga Nagan Raya Dukung Program CSR

Senin, 23 Maret 2026 - 17:03 WIB

Ternak Warga Mati : Bukan Gara Gara Limbah PT Fajar Baizuri. Ini Penjelasan Humas

Minggu, 22 Maret 2026 - 17:06 WIB

“Tak Ada Ampun! Dugaan Pungli JADUP Siperkas Menggila, Warga Kepung Oknum dan Siapkan Bukti Hukum”

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:25 WIB

TRK Bupati Nagan Raya Salurkan Bantuan Sapi/Kerbau dari Presiden RI kepada Warga Terdampak Bencana

Kamis, 19 Maret 2026 - 03:20 WIB

Kapolres Nagan Raya, AKBP Dr. Benny Bathara, S.I.K., M.I.K, Bagi Takjil Untuk Warga Penguna Jalan

Berita Terbaru

BANDA ACEH

SEKDA Aceh Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA

Rabu, 15 Apr 2026 - 23:22 WIB