ACEH TIMUR — Seorang petani bernama Hasan (50), warga Dusun Dataran Indah, Desa Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan hilang setelah diterkam seekor buaya saat menyeberangi Sungai Peunaron, Sabtu (3/1), sekitar pukul 16.00 WIB. Insiden mengagetkan ini terjadi ketika Hasan bersama anaknya, Ali (25), dan keponakannya, Aji (26), dalam perjalanan pulang dari ladang menggunakan perahu sampan.
Keterangan dari kepolisian menyebutkan, saat perahu mereka menyusuri kawasan Lubuk Kanis, seekor buaya tiba-tiba muncul dari sisi samping. Serangan mendadak itu menyebabkan perahu terbalik dan seluruh penumpangnya terjatuh ke dalam sungai. Moncong buaya yang muncul dari permukaan disertai terjangan cepat tak memberi waktu bagi Hasan untuk menghindar. Ia langsung disergap dan diseret ke dalam air, sementara Ali dan Aji berhasil berenang ke tepian sungai dan menyelamatkan diri.
Kapolsek Serbajadi, AKP Sudirman, mengatakan bahwa pihaknya segera mengerahkan personel ke lokasi setelah menerima laporan dari warga. “Anak dan keponakan korban berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke pinggir sungai. Namun, korban langsung diseret ke dalam air oleh predator itu dan tidak terlihat lagi sejak saat itu,” ungkap Sudirman.
Tim gabungan yang terdiri atas personel Polsek Serbajadi dan Koramil Peunaron kemudian langsung melakukan pencarian menyusuri aliran sungai. Meski telah dilakukan secara intensif hingga malam hari, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Sungai Peunaron yang dikenal memiliki hutan riparian dengan arus relatif deras menyulitkan proses penyisiran.
Proses pencarian terpaksa dihentikan sementara pada pukul 20.00 WIB karena terbatasnya pencahayaan dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Hujan yang turun sejak siang turut meningkatkan debit air sungai, membuat jarak pandang menjadi terbatas dan aliran air lebih deras dari biasanya, menyulitkan upaya pencarian secara manual.
“Upaya pencarian hingga Sabtu malam kita hentikan karena ada beberapa kendala, termasuk rendahnya visibilitas, debit air yang tinggi, dan terbatasnya peralatan pencarian malam hari. Diduga kuat korban telah dibawa menjauh oleh buaya dari lokasi awal serangan,” jelas Sudirman.
Pihak Polsek telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta Tim SAR Kabupaten Aceh Timur. Mereka diharapkan dapat memperkuat pencarian dengan personel tambahan dan peralatan seperti drone pengawas, perahu bermotor, dan lampu pencarian malam untuk memudahkan pelacakan di aliran sungai yang luas dan berkelok tajam.
Sungai Peunaron memang dikenal sebagai habitat sejumlah satwa liar, termasuk buaya muara yang tidak jarang menampakkan diri di permukaan ketika debit air meningkat. Meski warga sekitar telah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman tersebut, insiden seperti ini tetap menciptakan trauma mendalam, terlebih karena korban hingga hari ini masih belum ditemukan.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus dilanjutkan dengan menambah jangkauan penyisiran. Tim gabungan bersiaga di beberapa titik strategis sepanjang aliran sungai hingga ke muara, sambil menunggu perkembangan dan kemungkinan pemantauan dari udara atau penggunaan alat pelacak. Pihak keluarga hingga kini masih berada di lokasi, berharap Hasan dapat segera ditemukan, meski situasi di lapangan menunjukkan sejumlah tantangan besar dalam proses evakuasi. (*)

























