Jakarta – Pertarungan sengit di laga puncak DBL Jakarta 2025 menutup gemerlap turnamen basket pelajar paling bergengsi di ibu kota dengan cerita penuh drama. Tim basket putra SMA Jubilee Jakarta harus mengakui keunggulan lawannya, SMA Bukit Sion Jakarta, dalam final yang berlangsung intens di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2025), dan harus puas sebagai runner-up.
Walau gagal mempersembahkan gelar juara, Jubilee tetap mencuri perhatian, terutama lewat penampilan bintangnya, Paniro Azmil Manaf. Pemain yang mengenakan jersey bernomor 15 ini tampil menonjol sepanjang pertandingan dengan performa konsisten dan kepercayaan diri tinggi. Dengan tinggi badan 189 cm dan berat 95 kg, Paniro menjadi salah satu pemain paling dominan di lapangan dan disebut-sebut sebagai prospek cerah di dunia basket pelajar Tanah Air.
Sosok Paniro makin jadi sorotan setelah identitasnya terungkap sebagai putra dari Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, atau yang lebih dikenal dengan nama Mualem, dan Kumalasari. Dukungan penuh keluarga terlihat jelas ketika Paniro dipanggil naik ke atas panggung seusai laga berakhir. Viral di media sosial, momen haru itu memperlihatkan ia berdiri di antara kedua orang tuanya yang hadir langsung memberikan semangat dari tribun VIP.
Dibalik euforia pertandingan, publik memberi perhatian khusus pada penampilan Paniro. Banyak yang menilai kehadirannya bukan sekadar membawa nama besar keluarga, namun juga memperlihatkan kualitas teknis dan mental bertanding yang mumpuni. Terlepas dari hasil akhir, kehadiran Paniro menjadi pembuktian bahwa Aceh punya talenta muda yang siap bersaing di pentas nasional, bahkan ke level lebih tinggi.
Di atas lapangan, Jubilee berjuang keras menjaga momentum. Mereka saling kejar poin dengan Bukit Sion, namun ketatnya pertahanan serta beberapa kesalahan kecil di menit-menit krusial membuat peluang mereka menyamakan kedudukan pupus jelang akhir pertandingan. Bukit Sion akhirnya berhasil menyegel kemenangan dan mengangkat trofi juara, sementara Jubilee tetap mendapat apresiasi tinggi dari para pendukungnya.
Sejumlah pecinta basket remaja mengungkapkan bahwa kekuatan Jubilee musim ini menunjukkan kemajuan pesat, apalagi dengan hadirnya pemain seperti Paniro yang memberikan dampak nyata. Performanya disebut bukan hanya mengandalkan postur fisik, tapi juga visi bermain, defense yang kuat, hingga ketenangan dalam tekanan.
“Dia punya potensi untuk jadi pemain nasional suatu saat nanti. Kalau terus diasah dengan tepat, Paniro bisa jadi nama besar di PON atau bahkan IBL,” ujar salah satu pelatih basket junior yang menyaksikan laga tersebut.
Selain itu, kehadiran langsung Mualem dan istri pada laga final turut menciptakan sentimen positif di kalangan masyarakat Aceh, terutama yang bangga melihat wakil daerah mereka tampil di panggung sebesar DBL Jakarta. Di tengah isu-isu tentang minimnya representasi olahraga dari daerah, kiprah Paniro dianggap sebagai suntikan optimisme bahwa dengan latihan keras dan dukungan keluarga, atlet muda dari provinsi manapun punya peluang untuk bersinar.
Final DBL Jakarta 2025 menjadi tonggak penting, tidak hanya dalam catatan kompetisi antar-SMA, tetapi juga dalam memperkenalkan talenta muda seperti Paniro ke radar nasional. Meski hanya membawa pulang status runner-up, SMA Jubilee Jakarta pulang dengan kepala tegak dan segudang pengalaman, sementara Paniro pulang dengan status sebagai rising star baru dari ujung barat Indonesia. (*)

























