Izin Dicabut Tapi Cerobong Masih Berasap, Publik Pertanyakan Ketegasan Hukum terhadap PT Ensem Lestari

SYAHBUDDIN PJ

- Writer

Kamis, 14 Mei 2026 - 00:03 WIB

50172 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH SINGKIL –detikaceh.com. Polemik operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Ensem Lestari di Kabupaten Aceh Singkil kini menjadi sorotan tajam publik. Di tengah status izin usaha yang dikabarkan telah dicabut melalui keputusan resmi Pemerintah Aceh, aktivitas pabrik disebut masih terus berjalan. Kondisi tersebut memicu kemarahan berbagai elemen masyarakat, termasuk LSM Cokro Prawiro Nusantara yang secara terbuka melontarkan kritik keras dan mendesak aparat penegak hukum segera bertindak tegas.

Desakan itu semakin menguat setelah beredarnya foto kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi dari cerobong pabrik di kawasan Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Foto tersebut memancing reaksi publik karena dianggap menjadi bukti bahwa aktivitas industri masih berlangsung meski izin perusahaan telah dicabut oleh pemerintah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam keterangannya, LSM Cokro Prawiro Nusantara menilai kondisi tersebut sebagai bentuk pembangkangan serius terhadap keputusan negara dan kewibawaan pemerintah daerah.

> “Kalau izin sudah dicabut tetapi pabrik masih tetap beroperasi, lalu di mana letak kewibawaan hukum? Jangan sampai masyarakat menilai aturan hanya berlaku untuk rakyat kecil, sementara korporasi besar bebas melakukan apa saja,” tegas perwakilan LSM.

Berdasarkan dokumen resmi yang beredar, PT Ensem Lestari telah dijatuhi sanksi administratif berupa pencabutan Sertifikat Standar melalui keputusan tertanggal 31 Maret 2026 yang diterbitkan atas nama Gubernur Aceh melalui Kepala DPMPTSP Provinsi Aceh. Dalam amar keputusan tersebut ditegaskan bahwa apabila dikenakan sanksi pencabutan, maka pelaku usaha wajib menghentikan seluruh kegiatan usahanya.

Namun fakta di lapangan justru memunculkan tanda tanya besar. Asap hitam yang terlihat membumbung dari cerobong pabrik dinilai menjadi simbol bahwa aktivitas produksi diduga masih berjalan normal. Kondisi itu membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan pengawasan pemerintah serta ketegasan aparat penegak hukum.

LSM Cokro Prawiro Nusantara bahkan meminta Kapolres Aceh Singkil dan Kejaksaan Negeri Aceh Singkil untuk tidak tinggal diam. Mereka mendesak agar lokasi segera disegel dan dilakukan proses hukum apabila ditemukan pelanggaran pidana.

> “Ini bukan sekadar administrasi biasa. Ketika izin sudah dicabut namun operasional tetap berjalan, maka ada dugaan pelanggaran hukum serius. APH jangan hanya menjadi penonton,” lanjut pernyataan tersebut.

Selain persoalan legalitas, keberadaan asap hitam dari cerobong pabrik juga memunculkan kekhawatiran masyarakat terkait dampak lingkungan dan kesehatan warga sekitar. Beberapa warga menilai asap pekat tersebut dapat mencemari udara dan mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi pabrik.

LSM juga menilai pembiaran terhadap aktivitas perusahaan yang diduga sudah tidak mengantongi izin sah dapat menciptakan preseden buruk terhadap dunia investasi dan penegakan hukum di Aceh Singkil.

> “Kalau perusahaan yang sudah dicabut izinnya masih bebas beroperasi, maka ini bisa menjadi contoh buruk bagi perusahaan lain. Negara tidak boleh kalah dengan korporasi,” ujar mereka.

Dalam kajian hukumnya, LSM Cokro Prawiro Nusantara menyebut PT Ensem Lestari diduga melanggar sejumlah ketentuan perundang-undangan, di antaranya UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perpu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang serta UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Mereka juga menyoroti Pasal 105 UU Perkebunan yang menyebut pelaku usaha pengolahan hasil perkebunan tanpa izin berusaha dapat dipidana penjara paling lama lima tahun atau denda hingga Rp10 miliar.

Media Lakukan Konfirmasi kepada Pihak PT Ensem Lestari Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, pihak media news1kabar.com juga telah melakukan upaya konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak PT Ensem Lestari melalui manajemen perusahaan.

Konfirmasi tersebut disampaikan oleh Syahbudin Padang dari media news1kabar.com sekaligus Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh.

Adapun isi konfirmasi yang disampaikan kepada pihak perusahaan sebagai berikut:

> “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> Perkenalkan bg, saya Syahbudin Padang dari media news1kabar.com sekaligus bagian dari FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh.
> Izin melakukan konfirmasi dan klarifikasi terkait informasi serta pemberitaan yang sedang berkembang mengenai PT Ensem Lestari, agar pemberitaan yang kami tayangkan tetap berimbang, akurat, serta tidak menimbulkan kesalahpahaman ataupun dianggap sebagai berita fitnah dan hoaks.
> Besar harapan kami pihak perusahaan dapat memberikan tanggapan atau penjelasan resmi sebagai bentuk hak jawab demi menjaga profesionalitas jurnalistik dan keterbukaan informasi kepada publik.
> Atas perhatian, kerja sama, dan respon baik dari pihak perusahaan, sebelumnya kami ucapkan terima kasih.
> Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Ensem Lestari belum memberikan tanggapan resmi terkait konfirmasi yang telah disampaikan.

Sementara itu, masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Banyak pihak berharap persoalan ini tidak berhenti pada polemik semata, melainkan ada tindakan konkret demi menjaga kepercayaan publik terhadap hukum dan pemerintah.

LSM Cokro Prawiro Nusantara menegaskan pihaknya akan terus mengawal kasus tersebut hingga ada kejelasan hukum.

> “Kami akan terus bersuara sampai ada tindakan nyata. Jangan sampai hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul terhadap korporasi besar,” tutup pernyataan mereka.

Redaksi: news1kabar.com
Syahbudin Padang
Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh
Team //

Berita Terkait

Hilangnya Marwah Parlemen: Ketika DPRK Abdya Memilih Menjadi “Macan Ompong” di Hadapan Bupati
Peserta Seleksi Baitul Mal Kabupaten Gayo Lues Minta Pansel Buka Nilai Tes Secara Transparan
Mahasiswa UTU Tegas Menolak Rencana Tambang di Kecamatan Samadua demi Menjaga Kelestarian Lingkungan dan Masa Depan Masyarakat
Polres Bireuen Kembali Tunjukkan Kinerja, 10,6 Kg Sabu Digagalkan Sebelum Beredar
Resmi Pimpin Polres Cimahi, AKBP Moh. Faruk Rozi, S.H., S.I.K., M.Si Langsung Tancap Gas: Siap Lanjutkan Prestasi, Tegakkan Hukum, dan Perkuat Pelayanan untuk Masyarakat
Pengembangan Kasus Berbuah Hasil, Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku dan Sita Ratusan Gram Ganja
Bupati Abdya Dinilai Panik dan Lempar Bola, Mahasiswa: Sibuk Urus DPRA Tapi Kinerja Sendiri Bobrok!
Sekolah Rakyat Hadir di Aceh, Wujud Nyata Dukungan Mualem–Dek Fadh untuk Pendidikan Anak

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 22:05 WIB

Peserta Seleksi Baitul Mal Kabupaten Gayo Lues Minta Pansel Buka Nilai Tes Secara Transparan

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:53 WIB

Seluruh Personel Polsek Blangkejeren dan Pospol Blangpegayon Lulus Tes Urine dalam Kegiatan Gaktibplin

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:30 WIB

Hari Bhayangkara Ke-80, Kapolres Gayo Lues: Tingkatkan Pelayanan Terbaik Kepada Masyarakat

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:33 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Tangkap Pengedar Sabu, Amankan 19 Paket Narkotika Seberat 4,34 Gram

Rabu, 24 Juni 2026 - 01:24 WIB

Banjir Rendam Jalan dan Putuskan Jembatan, Polri Pastikan Mobilitas Warga Tetap Terlayani

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:39 WIB

Brimob Polda Aceh, Tangguh Dan Tulus Mengayomi Masyarakat Gayo Lues

Selasa, 16 Juni 2026 - 22:42 WIB

Berkat Penanganan HK, Jalan Nasional di Tetumpun yang Tertutup Longsor Kini Kembali Bisa Dilintasi

Selasa, 16 Juni 2026 - 19:55 WIB

Tradisi Pemberangkatan Personel Batalyon D Pelopor Dalam Rangka Pendidikan SIP 56 Tahun 2026

Berita Terbaru